Selasa, 23 Juni 2009

Belajar memiliki rasa malu...ukhti


dakwatuna.com - Malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikitpun dalam dirinya. Rasa manis seorang wanita salah satunya adalah buah dari adanya sifat malu dalam dirinya.

Apa sih sifat malu itu? Imam Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”

Abu Qasim Al-Junaid mendefinisikan dengan kalimat, “Sifat malu adalah melihat nikmat dan karunia sekaligus melihat kekurangan diri, yang akhirnya muncul dari keduanya suasana jiwa yang disebut dengan malu kepada Sang Pemberi Rezeki.”

Ada tiga jenis sifat malu, yaitu:

1. Malu yang bersifat fitrah. Misalnya, malu yang dialami saat melihat gambar seronok, atau wajah yang memerah karena malu mendengar ucapan jorok.

2. Malu yang bersumber dari iman. Misalnya, seorang muslim menghindari berbuat maksiat karena malu atas muraqabatullah (pantauan Allah).

3. Malu yang muncul dari dalam jiwa. Misalnya, perasaan yang menganggap tidak malu seperti telanjang di hadapan orang banyak.

Karena itu, beruntunglah orang yang punya rasa malu. Kata Ali bin Abi Thalib, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.”

Bahkan, Rasulullah saw. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)

Dari hadits itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah swt. Sebab, rasa malu adalah pancaran iman.

Rabu, 17 Juni 2009

Hari H




Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilail Quran dalam memahas Surat Al Buruuj (Gugusan Bintang) ayat ke-2 memberikan makna lebih dalam mengenai Hari Yang Dijanjikan, mengenai saat semua rahasia manusia dibeberkan sehingga tidak ada lagi yang tersembunyi.

Penjelasan Sayyid Quthb memberikan gambaran agar kita mempersiapkan diri menghadapi satu hari yang sangat hebat dan teliti.

“Yaitu hari keputusan menyangkut peristiw-peristiwa dunia dan penyelesaian terhadap hisab dunia dan apa yang terjadi di dalamnya. Ia adalah hari yang kedatangannya dijanjikan Allah,” tulis Sayyid Quthb.

“Pada hari ini juga Dia menjanjikan adanya hisab dan balasan dan Dia memberi tempo kepada orang-orang yang membantah dan menentang tentang hal ini. Ia adalah hari yang sangat besar yang membuat penasaran dan dinantikan oleh semua makhluk untuk mengetahui bagaiman jadinya perkara tersebut,” lanjutnya.

Kemudian ayat ketiga berbunyi : Dan yang menyaksikan serta yang disaksikan.

Sayyid Quthb menjelaskan, pada hari tersebut amal perbuatan dibeberkan dan semua makhluk ditampilkan, sehingga semuanya menjadi tersaksikan dan semuanya juga menyaksikan. Segala sesuatu diketahui dan tampak terlihat tak ada sesuatupun yang menutupi hati dan mata.

Inilah penjelasan dua ayat Al Quran yang dengan gamblang menuturkan bahwa Hari Yang Dijanjikan itu memang akan datang dan semuanya terbuka sampai yang sekecil-kecilnya.

Sudahkah kita mengingat Hari H itu akan datang ? Telahkah kita mempersiapkan semuanya ? Kelalaian kita dengan berbagai urusan dunia sering melupakan betapa dahsyatnya hari itu, betapa file amal kebaikan dan keburukan dalam ‘hard disk’ kita akan dipaparkan sampai yang sebesar atom.

Kini kita masih diberi usia dan kesehatan. Saatnya untuk menghitung amal kebaikan. Saatnya menambah amal shaleh untuk bekal di Hari Yang Dijanjikan, sebuah hari dimana tidak ada lagi dusta dan argumentasi. Tidak ada lagi perdebatan. Amal akan ditimbang dan nasib yang permanen akan ditentukan.

Selasa, 09 Juni 2009

Batu dan Matahari

Tuhan berikan ku hati yang entah ku tak bisa mengisi dengan sekeinginanku. dalam perjalan hidup selalu ada rasa suka dan tidak suka, rintangan dan cobaan. dan kini ku dalam keadaan diam karena sesuatu...

Tuhan berikan ku hati yang entah ku tak bisa mengisi dengan sekeinginanku. kenapa ada rasa itu...selalu ku bertanya,padahal tak ku inginkan rasa itu...itulah sifat manusia yang selalu mengeluh...

Tuhan berikan ku hati yang entah ku tak bisa mengisi dengan sekeinginanku. padahal ku salah dalam memberi rasa itu...haruskah ku menyalahkan yang tertulis dalam qalbu...itulah sifat manusia yang selalu menyalahkan...

Tuhan berikan ku hati yang entah ku tak bisa mengisi dengan sekeinginanku. ingin ku rubah..dan ingin ku hiasi dengan rasa yang indah...itulah manusia selalu menyukai yang indah-indah

Tuhan berikan ku hati yang entah ku tak bisa mengisi dengan sekeinginanku. kini hatinya tinggal kesepian karena hanya diam membatu. tak ingin merasakan sesuatu yang tertulis...itulah sifat manusia yang selalu tak bersyukur...

Tuhan berikan ku hati yang entah ku tak bisa mengisi dengan sekeinginanku. apakah ku harus mensyukuri nikmat yang salah ini...tak ada yang bisa di terima...cukupkan biar ku membatu dalam sepi...

sayang jangan biarkan hatimu gelap...karena cahaya matahari pagi akan datang menemani hari-hari indah bersama senyuman yang menghiasi dunia...met pagi matahari...terus semangat yaa...ayo bagun...rubahlah batu itu menjadi bidadari penyemangat dunia.

Diam Apa Bisa Sementara

Tuhan...
Tuhan...
Tuhan...

temani...
temani...
temani...

diam...
diam...
diam...

sementara ku diam<