Rabu, 22 April 2009

Sahabat, sadarkan aku dalam alpa ku...

hari ini tak ada yang bisa buat q ketawa kecuali gurawan sobat2q yang Allah berikan padaq. mungkin kalo q tak ada di IM q tak kenal sobat2,tak kenal siapa dia, kamu dan orang2 yang didekat. memang q akui sering kali q mengeluh...keluhan itu terjadi saat ada sesuatu yang buat q kesal. tapi wajarlah namanya juga manusia, untung aja ada sobat2q yang setia satq tersenyum dan saaq tersedih..alias murung.

sobat tak terasa hampir 4 tahun q di IM, jujur q rasa belum ada sesuatu peningkatan dari diriq kecuali usia yang menggerogotiq...sahabat...q telah merasakan indahnya saat qt susah n senang, saat qbersalah padamu,berdosa padamu, membuatmu senang dan tersenyum...

sahabat, jgn pernah kau bosan dalam mengajakq dan menarikq saat q tak berdaya. karna apalah diri ini tanpa senyum darimu..

Minggu, 19 April 2009

Ketika Future...



futur indikasi peningkatan iman setelah berhasil melewatinya..

futur mendatangkan kehinaan ketika tak mampu mensiasatinya..

namun, tak jarang juga kita sering kali futur-bangkit-futur-bangkit sehingga kalau di total hidup kita sekitar bagaimana cara bangkit dari kefuturan hari ini dan mempersiapkan cara lain ketika futur lagi..

namun, futur itu tidaklah sejenis.. kita harus jeli melihat penyebab ke futuran dan tindakan apa yang harus diambil..

berdasarkan pengalaman, penyebab futur karena kecewa dengan diri sendiri ketika rencana hanya tinggal kenangan, menyalahkan diri kenapa dengan saya? saya tidak seperti yang saya harapkan? hmm.. dan solusinya jika berhadapan dengan futur jenis ini adalah pergi ke pasar! (jangan tertawa dulu, ini pengalaman pribadi :mrgreen: ). pasar identik dengan tempat keramaian, dimana ada banyak aktifitas dan kegiatan, mulai dari orang berdasi yang duduk di balik marcedes band sampai kuli angkut barang yang sedang mengayuh becak. semua bisa di saksikan, di jalan semua orang berkejar-kejaran dengan waktu, kita tidak tahu untuk kepentingan duniakah urusan mereka atau untuk mencari keridho-an rabbnya. terlepas dari tujuan itu, ada satu hal yg secara umum bisa kita petik hikmahnya, yaitu : mereka bergerak! mereka tidak diam di tempat! mereka sibuk! mereka menyibukkan diri! tentu saja itu terlepas dr kesibukan yg berorientasi untuk mendapatkan apa. ketika futur karena tak bergairah melakukan apapun, tanyalah dahulu pada diri, inginkan hidup yg seperti apa? semua orang bersaing mendapatkan apa yg mereka impikan, apakah kita hanya bisa disini sj? jawablah…

ketika futur dalam amalan yaumiah, cobalah mengetahui keistimewaan ibadah yg kita lakukan, baca buku, atau setidaknya mencari tahu kepada seorang yg punya ilmu tentang itu. pahami, resapi kenapa saya tidak bersemangat melakukan suatu ibadah unggulan? melihat manfaatnya, apa lagi yang di tunggu kan kawan? jawablah…v

an yang terpenting ketika futur, lawanlah! futurkan futur yang menghantuimu. disadari atau tidak, ketika kita butuh kekuatan, jika mau berusaha sedikit saja untuk menemui kekuatan itu yakinlah Allah swt bersama orang-orang yang berusaha. disadari atau tidak, ternyata ada orang-orang yang mengatakan : “kemarilah saudaraku, duduklah disini bersama kami, jangan pergi, tetaplah disini, seberapa besar kekuatan yang kau butuhkan untuk dapat bangkit lagi, kau akan dapatkan dari sisa-sisa kekuatan kami”. subhanallah.. disanalah letak ukhuwah islamiah atas landasan kecintaan yang besar pada Rabb sehingga Allah SWT mengikat hati-hati orang yang saling mencintai karena-Nya.

masih futur? ayo bangkit! :)

Jumat, 27 Maret 2009

Syaksiyah Islamiyah



Syaksiyah Islamiyah atau Kepribadian Islam merupakan pilar dalam kebangkitan umat Islam. Dengan sari pati kepribadian yang semestinya dimiliki setiap individu ini diharapkan bisa membawa angin segar dalam kehidupan umat Islam.

Salah satu link menarik mengenai Syaksiyah Islamiyah ini bisa di lihat di situs ini.

Inti sarinya:

1. Salimul Aqidah
Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang sepatutnya ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam‘ (QS 6:162).

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. Shahihul Ibadah.
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ‘shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.‘ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq.
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman yang artinya: ‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung‘ (QS 68:4).

4. Qowiyyul Jismi.
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesiatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sering sakit. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah saw bersabda yang artinya: ‘Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah‘ (HR. Muslim).

5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.‘ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (QS 2:219).

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktiviti berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Dapat kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

6. Mujahadatul Linafsihi.
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.

Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

7. Harishun Ala Waqtihi.
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.

Allah swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: ‘Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.‘ Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, rehat sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi.
Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya penerusan dan berilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. Qodirun Alal Kasbi.
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan kekuasaan (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bilakala seseorang memiliki kekuasaan, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umrah, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kekuasaan inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksima agar dapat bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya.

Kamis, 26 Maret 2009

Indahnya menjadi Muslimah






My Wajihah


Siapa mau jadi JUNDULLAH???




















Jundullah (tentara Allah) sangatlah diperlukan dalam
menuju kemerdekaan hakiki. Jundullah tidak berarti
harus seseorang atau kelompok orang yang memiliki
senjata dan terampil menggunakannya. Kita tidak hanya
memerlukan tentara-tentara untuk perang fisik, tetapi
kita masih perlu tentara-tentara untuk meraih
kemerdekaan disegala bidang. Kita perlu tentara
ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan sebagainya.

Jundullah yang memerdekakan kaum muslimin lainnya dari
penjajahan, adalah bukti kasih sayangnya. Oleh karena
seorang jundullah akan dikasihi oleh Allah,
sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih:

Jabir bin Abdullah ra. berkata, Rasulullah SAW
bersabda: "Siapa yang tidak mengasihi orang, maka
Allah tidak akan mengasihi."
(HR Bukhari & Muslim)

Siapa yang akan menjadi jundullah? Saya dan Anda, jika
kita ingin mendapatkan kasih sayang Allah. Kita bisa,
karena tidak mungkin Allah memerintahkan kita untuk
memerangi kemungkaran tanpa membekali kita dengan
bekal yang memadai. Kita sudah punya bekal yang
memadai dalam diri kita, kita sudah memiliki potensi
besar dalam diri kita, kita hanya perlu menggali
potensi tersebut.

Untuk menjadi jundullah, yang diperlukan ialah
menuntut ilmu. jika tentara memiliki kekuatan senjata,
jundullah bukan hanya itu, tetapi juga memiliki
kekuatan intelek yang kuat. Jundullah adalah
pribadi-pribadi yang unggul. Jundullah adalah mereka
yang memiliki kekuatan aqidah, kekuatan ilmu, dan
kekuatan amal.

Orang Cerdas Senantiasa Mengingat Kematian


Setiap mahluk hidup pasti mati. Ini aksioma kehidupan yang diakui di Barat maupun Timur. Untuk mengetahui kadar kehidupan seseorang dan kadar ketahanan hidup mahluk hidup tidak memerlukan kecerdasan tinggi. Anak-anak juga tahu bahwa mati adalah sesuatu yang dialami orang atau mahluk hidup.

Hanya setiap orang sering alpa bahwa kematian senantiasa mengintai, bahwa batas waktu kita hidup di dunia sama sekali tidak diketahui.

Orang yang memiliki kesadaran akan batas-batas dalam kehidupan itulah yang disebut Rasullullah orang cerdas atau orang jenius.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Maukah kita disebut orang jenius? Siapapun itu manusia sangat gembira kalau digolongkan orang yang memilki kecerdasan tinggi.

Dengan prinsip ini maka sadar akan waktu terakhir kehidupan di dunia ini menjadi bagian dari kecerdasan yang esensial dalam kehidupan. Sejarah telah mengajarkan Firaun yang mengaku Tuhan pun dan yang memerintahkan pembunuhan semua bayi laki-laki, akhirnya menelan kematian. Jejaknya bisa kita baca dan muminya bisa kita saksikan di Mesir.

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ

وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)

Peringatan ini mengharuskan kita senantiasa dalam keadaan sadar apakah sedang sibuk atau tidak, apakah mau tidur atau baru terbangun. Apakah sedang gembira atau sedih.

Semuanya diukur oleh kesadaran akan kematian.